HOP[e]

Posted on May 5, 2007 by altbug.
Categories: Contemplation.

Jenna

Langkah- langkah kaki lembut diatas jalan paving yang basah karena hujan terdengar cukup nyaring di jam tiga pagi, terdengar seperti berlari-lari kecil. Itu adalah Hop, aku bisa melihatnya dari balkon studioku di lantai dua. Hop mondar- mandir dari ujung gang yang satu ke ujung gang yang lain.

Waterdog Lihat, itu dia lagi, sekarang berlarian dari ujung gang sebelah barat. Dia berhenti sejenak di perempatan, melihat ke kiri dan ke kanan, lalu melihat ke belakang, lalu menegakkan kepala dan kupingnya. Dia menyalak ketika melihat seorang bersepeda menuju ke arahnya.

Aku telah bangun semalaman, dan jam tiga seperti ini, mataku sudah tidak mengantuk lagi. Otakku sudah tidak bisa diajak berpikir lagi, satu – satunya yang bisa kulakukan adalah menunggu kantuk datang dengan menghirup udara subuh. Tak ada yang menarik di pagi buta ini kecuali Hop yang mondar - mandir di jalanan, lebih rajin dari Satpam yang mungkin malah sedang tidur di jam – jam begini.

Di penghujung malam dan pagi seperti ini yang terlihat paling jelas dari Hop adalah bulu lehernya yang seperti celemek putih di atas badannya yang hitam, dan bulu- bulu kakinya yang sama putih membuatnya seperti memakai kaus kaki putih. Bulu- bulu putih itu terlihat lebih putih dari biasanya di musim hujan seperti ini, karena Hop sepertinya hanya mandi kalau musim hujan tiba. Tak ada yang memandikan Hop setiap hari dan memberinya bedak anti kutu, seperti anjing- anjing perumahan yang lainnya, yang kadang- kadang juga berlarian dengan Hop di siang hari.

Hop tidak selalu hidup di jalanan, pernah dia hidup dengan seorang tuan. Tuannyalah yang memberi dia nama Hop. Tetanggaku, dua gang di sebelah utara gang-ku. Seorang anak kecil umur sepuluh tahun (delapan tahun yang lalu) bernama Bob. Aku rasa anak itu ingin anjingnya punya nama mirip dengan namanya. Bob dan Hop, terdengar seperti nama sepasang saudara kembar.

Hidup bukan sebuah lelucon, tapi Bob memang sebenarnya memiliki seorang saudara kembar. Tak ada yang tahu dimana saudara kembarnya berada, karena Bob adalah anak adopsi. Orang tua Bob dihadapkan pada pilihan yang sulit ketika harus mengambil satu bayi saja di antara sepasang bayi kembar yang ditinggalkan di rumah sakit.

Sekarang, Bob si anak adopsi telah mengadopsi seekor anjing untuk menjadi saudaranya. Barangkali Bob di alam bawah sadarnya terus merindukan saudara kembarnya ketika ia memberi nama anjing itu Hop. Bob menemukan anak anjing kecil basah kuyub di tengah lapangan ketika ia dan teman- temannya bersepeda. Ia memungut anjing kecil yang menangis kesepian dan ketakutan itu dan membawanya pulang.

Bob merawatnya, memandikannya, dan bermain dengannya. Seekor anjing kecil dan seorang bocah yang senang bersepeda kemana- mana, adakah yang lebih cocok dari pasangan itu? Bop dan Hop sering terlihat bersama, sebuah duo penjelajah perumahan.

Seringkali aku berjumpa mereka di berbagai tempat di perumahan kami. Kadang aku melihat Hop menunggu Bob yang sedang membeli sate di warung pak Ran. Hop dengan setia duduk menunggui sepeda oranye Bob. Kadang aku melihat mereka duduk bersama di tepi sungai perbatasan perumahan, memancing bersama (atau melamun bersama). Kadang mereka berkelana di area perumahan yang belum selesai terbangun. Kadang juga Hop berlarian di tepian lapangan sepak bola, bolak – balik mengikuti arah lari Bob yang berebut bola dengan teman- temannya. Hop adalah suporter setia Bob. Setiap kali Bob memasukkan bola dan berteriak dan melompat – lompat sambil mengangkat tangannya, Hop ikut melompat berputar – putar, seperti mengejar ekornya, dan menyalak – nyalak, seakan ikut merasakan kepuasan Bob. Yang paling sering terlihat adalah Bob mengayuh sepedanya kencang- kencang, sementara Hop berlari tak kalah kencang di belakang sepeda Bob. Bob sesekali menoleh ke belakang memastikan Hop tidak tertinggal jauh, mataharipun kalah ceria, dan pelangi kalah indahnya.

Kid20and20dog20and20gunSepertinya tiap hari Bob memandikan Hop, karena Hop terlihat selalu bersih, padahal tempat- tempat mereka berpetualang bukanlah tempat- tempat yang bersih. Suatu kali aku melihat Bob bergulingan di atas lumpur bersama teman- temannya dengan helm dari potongan bola plastik dtikat dengan tali rafia di kepala mereka. Barangkali mereka sedang bermain perang- perangan. Hop tak mau ketinggalan, iapun berguling- guling hingga tak terlihat jelas lagi warna bulunya. Kalau musim hujan datang aku sering bertemu Bob dan Hop berhujan- hujan di depan rumah mereka.

Seperti semua anak kecil dan peliharaannya, Bob berbagi hampir semua makanannya dengan Hop. Roti, krupuk, bakso, apa saja. Aku pernah melihat Bob memberi Hop sisa eskrimnya, dan ia tertawa ketika melihat moncong Hop terkena eskrim. Pertama kali aku mengambil gambar Hop adalah ketika aku sedang mencari obyek untuk proyek fotografiku. Aku melihatnya di lapangan itu. Aku ingin menangkap kesedihannya. Tak kusangka seorang anak seperti Bob, dengan hati dan kehendaknya yang polos meninggalkan sepedanya di tepi lapangan demi memungut seekor anjing kumal dan kuyup. Anak itu hampir saja menabrak aku ketika berlari ke tengah lapangan. Bob sempat menanyakan kepadaku apakah anjing itu milikku, tentu saja aku menggeleng. Ia mengelus- elus Hop, dan mengangkatnya, mengeringkannya dengan jaketnya dan menaruhnya di dalam keranjang sepedanya. Hari itu aku mendapatkan dua foto terbaikku. Hop kecil, dan Bob. Sejak itu Bob dan Hop menjadi obyek favoritku. Kadang aku menulis tentang mereka di catatan harianku. Kadang, ketika aku membawa kamera dan bertemu mereka, aku mengambil gambar mereka. Kadang aku melakukan keduanya.

Dua tahun berlalu, Bob yang biasanya memakai seragam putih- merah, sekarang memakai seragam putih- biru. Bob mulai jarang bersepeda, tetapi sesekali aku masih melihat mereka bersepeda, aku rasa pada hari sabtu atau minggu. Sekolah Bob jauh di tengah kota sehingga ia harus berangkat pagi- pagi sekali dengan antar- jemput. Meski masih SMP, sepertinya hari- hari Bob mulai penuh oleh kegiatan sekolah. Berangkat pagi, pulang jam tiga, lalu sepanjang hari di rumah.

Setiap hari Senin dan Kamis dari rumahnya selalu terdengar denting piano yang terbata- bata meniti tiap nada. Setiap hari Rabu dan Jum’at, Bob pergi ke tetangga depan rumahku untuk les pelajaran sekolah. Setiap Selasa Bob selalu pulang dengan seragam olah raga, jam enam sore. Di setiap hari itu, Hop selalu menunggu Bob di perempatan. Begitu mobil antar jemput Bob datang, Hop langsung berdiri, Bob berteriak memanggil Hop,

“Hooo…p!”,

dan semua teman- temannya ikut memanggil,

“Hop, Hop, Hoo…p!”,

kedengarannya seperti mereka menyetop kendaraan antar jemput itu. Hop melompat- lompat dan berlari mengitari Bob yang turun dari mobil, lalu mereka lari pulang bersama.

Setiap kali Bob pergi ke tetangga depan rumahku, Hop ikut serta, dan selama Bob di dalam, Hop tidur di depan pintu pagar. Kadang- kadang dia juga berjalan mondar- mandir, tapi tak pernah lebih jauh dari empat rumah, dan tak pernah lebih dari limamenit, ia selalu kembali duduk di depan pagar rumah les itu. Beberapa kali aku harus mengusirnya untuk minggir supaya aku bisa memasukkan mobilku ke garasi. Bob dan teman- temannya selalu keluar dengan setengah berlari dari rumah les itu, seperti burung keluar dari sangkar, dan sekali lagi mereka mendapatkan kebebasannya dengan Hop.

Beberapa kali ketika aku melintas di depan rumah Bob pada perjalanan pulang, aku melihat mereka berdua duduk di teras. Bob membaca buku, atau menulis sesuatu sedangkan Hop tidur di bawah meja. Bob mulai memakai kacamata, dan Hop sudah menjadi anjing yang besar. Kadang- kadang Hop menyalaki mobilku ketika aku lewat depan rumah mereka. Bob Cuma menoleh sebentar. Hop mungkin bosan terus- terusan tidur di dalam rumah.

Hari- hari berjalan seperti itu dari tahun ke tahun. Denting- denting piano dari rumah Bob, makin lama terdengar makin lancar dan makin merdu. Lama- kelamaan Bob dan teman- temannya tidak lagi keluar sambil berlarian dari rumah les di depan, tetapi Hop tetap saja berlarian dan melompat- lompat setiap kali melihat Bob keluar dari sana. Hop juga tetap berlompatan tiap kali melihat mobil antar jemput Bob di perempatan, meskipun sekarang Bob tidak lagi berteriak “Hooo…p!”, dan teman- teman Bob tidak lagi beramai- ramai menyahuti, “Hop, Hop, Hoo…p!”.

Lalu, Bob tidak lagi memakai celana pendek. Ia sudah memakai celana panjang abu-abu. Dia tidak lagi naik antar jemput, ia naik sepeda motor. Sepertinya Hop lebih menyukainya, ia bisa berlari lagi di belakang sepeda motor Bob, seperti beberapa tahun lalu ketika Bob masih memakai sepeda oranyenya. Tiap pagi kalau Bob berangkat sekolah, Hop berlari mengikutinya sejauh yang dia bisa, sampai Bob benar- benar ngebut untuk meninggalkan dia.

Kehidupan Bob banyak berubah. Ia semakin jarang tinggal di rumah. Denting piano juga tak pernah terdengar lagi. Bob sering pulang sore lalu pergi lagi dengan sepedamotornya. Jam bermain Hop dengan Bob pun berubah.

Cool_dog Hop kini menemani Bob nongkrong bersama teman- temannya di warung pak Di hampir setiap malam. Mereka nongkrong menunggu malam benar- benar larut dan jalan benar- benar sepi untuk menggeber motor dan mobil mereka. Pembalap jalanan, dan seperti dulu MotorcycledogHop adalah suporter setia Bob, ia ikut lari kencang di tepi jalan mengikuti kencangnya sepeda motor Bob. Setiap kali balapan berakhir, Bob mengajak Hop duduk di depannya dan mereka bersama- sama pulang ke rumah. Sekali lagi, mereka adalah duo itu, "Bob dan Hop"

Suatu hari, sebuah ambulance keluar dari gang rumah Bob ketika aku pulang malam. Hop berlarian mengikuti ambulance itu sambil menyalak-nyalak. Besoknya aku dengar Bob masuk rumah sakit, katanya tiba- tiba pingsan di kamarnya. Gosip- gosip mulai terdengar, Bob over dosis, Bob ayan, Bob bunuh diri, tapi semua itu tak berpengaruh bagi Hop. Hop selalu menunggu Bob pulang dengan berdiri di perempatan, setiap siang.

Bob lama di rumah sakit, berminggu- minggu, dan Hop selalu menunggu Bob di perempatan. Sampai suatu hari Bob pulang, kepalanya gundul. Bob terlihat sangat kurus dan pucat, dia tidak lagi sekolah, tidak lagi keluar rumah. Hop juga tidak terlihat mengelilingi kampung. Hop hanya berada di sekitar gangnya saja. Suatu hari aku melihat Bob di teras depan rumahnya, begitu pucat duduk di atas kursi roda. Hop duduk di sebelahnya, kepalanya bersandar di pangkuan Bob. Bob mengelus elus kepala Hop sambil membaca koran.

Bob melambaikan tangan kepadaku ketika aku membuka jendela untuk menyapanya. Gosip lain terdengar, ia kena AIDS, padahal Bob terkena Leukimia, ia tak akan hidup lebih lama. Ah, tetangga…. Apapun yang diderita Bob, bagi Hop ia tetap Bob, dan bagi Hop kalau Bob di rumah, ia juga harus di rumah. Tetapi bagi Bob, Hop tidaklah cukup, ia harus bisa menemukan saudara kembarnya, kalau ia ingin hidup dengan transplantasi sum-sum tulang belakang.

Enam bulan berlalu, dan Bob semakin jarang terlihat di luar rumah, hanya Hop yang kadang terlihat duduk di depan pagar rumah mereka, sekali- kali menyalaki sepeda motor yang lewat.

Suatu hari, ibu Bob bertandang ke tetangga depan rumah dengan taxi. Ia membawa Hop dengan rantai anjing. Tidak biasanya, Hop tidak pernah dirantai sebelumnya. Di dalam taxi Bob duduk dengan kepala gundulnya. Hop tak mau turun dari taxi, Ibu Bob terpaksa menariknya ke luar dan Bob mendorongnya dari dalam.

Ibu Bob mengatakan kalau keluarga mereka akan pindah ke Jerman. Bob akan mendapat transplantasi di sana. Mereka telah menemukan keluarga yang mengadopsi saudara kembar Bob, pasangan Jerman – Indonesia yang sekarang tinggal di Jerman. Ia mengatakan bahwa ia akan menemani Bob menjalani perawatan di Jerman, dan barangkali harus tinggal di sana untuk beberapa bulan. Mereka akan mengontrakkan rumahnya, karena sepulang dari Jerman, mereka akan tinggal dengan ayah Bob di Jakarta.

Malam itu mereka berangkat. Ibu Bob menitipkan Hop ke tetangga depan rumah. Hop bersikeras untuk masuk kembali ke taxi, tetangga depan harus memegang erat rantai Hop agar ia tidak ikut masuk ketika ibu Bob masuk ke taxi. Bob menempelkan dahinya ke jendela taxi dan Hop berdiri menempelkan moncongnya di sisi luarnya. Ketika taxi berangkat, Hop berusaha mengikutinya, hanya saja lehernya terikat kuat oleh rantai yang dipegang erat oleh tetangga depan. Hop hanya bisa menyalak- nyalak pada taxi itu.

Sepanjang malam hari itu Hop melolong dan mengaing di balik pagar tetangga depan. Terkadang terdengar seperti ia menghentak- hentakkan rantai yang diikatkan ke pagar rumah depan supaya lepas. Lolongannya membuat aku tak bisa tidur.

Lolongan dan kaingan Hop seolah berisi ribuan pisau tajam yang menyebar ke segala penjuru. Seolah ia tahu kalau Bob malam itu pergi dengan salah satu pesawat yang melintas di atas perumahan kami. Setiap kali deru jet terdengar, lolongan Hop semakin kuat dan panjang. Lolongannya terdengar seperti,

“Boooouuuuuuuuup, Bo-bo-bo-bouuuuu…p!”.

Aku menutup kupingku dengan dua bantal setiap kali ia melolong, sampai suatu saat aku dengar pintu pagar rumah depan dibuka. Tetangga depan pasti jauh lebih tersisksa mendengarnya. Hop langsung berlari keluar sambil melolong- lolong, “Boooouuuuuuuuup, Bo-bo-bo-bouuuuu…p!”, “Boooouuuuuuuuup, Bo-bo-bo-bouuuuu…p!”, dari ujung gang satu ke ujung gang lain. Malam itu seluruh kampung tak bisa tidur. Malam itu dan malam – malam selanjutnya sampai beberapa minggu.

Setiap pagi aku melihat Hop berdiri di perempatan, mengawasi tiap mobil yang lewat. Setiap sore ketika aku melewati rumah Bob yang kosong aku melihat Hop tidur di depan pagarnya, kelelahan. Meskipun semua orang di kampung terganggu dengan lolongan Hop setiap malam, tak ada satupun dari kami tega untuk membuangnya. Dia berlarian dari ujung gang satu ke ujung gang lain, mengamati setiap wajah, setiap mobil, setiap motor, setiap sepeda. Setiap kali ada segerombolan anak kecil bersepeda, Hop selalu menepi dan mengamati mereka dengan lidah menjulur. Anak- anak itu lewat dengan takut- takut di depan Hop, tapi Hop tak pernah menyalaki mereka. Kadang- kadang ia berlari mengikuti anak- anak itu dan mereka mengayuh sepeda mereka ketakutan, padahal Hop tidak mengejar, ia selalu berhenti di ujung gang. Tidak pernah lebih jauh dari empat rumah, atau limamenit dari gang rumah Bob. Mungkin dia hanya ingin mengulangi masa- masa ketika ia dan Bob menjelajah seantero perumahan bersama, Bob dengan sepeda oranyenya dan dia yang berlari di sampingnya.

epilogue

Hari ini, telah dua tahun sejak kepergian Bob malam itu. Hop masih saja berlarian dari ujung gang yang satu ke ujung gang yang lain. Hop yang telah renta. Hop yang delapan tahun lalu menerima namanya dari seorang bocah kecil bernama Bob. Minggu lalu aku dengar keluarga Bob telah kembali ke Indonesia, tanpa Bob. Mereka tinggal di Jakarta, mereka tak ingin kembali ke kota dimana Bob mengukirkan kenangannya bersama Hop.

Hop masih di sini, berlarian dari ujung gang satu ke ujung gang yang lain. Tidak lagi melolong, tetapi masih menunggu. Di sini Hop hidup bersama dengan kami sekampung, tanpa rumah, tanpa tuan. Ia makan dari kami semua, kadang tetangga depan memberi makan, kadang tetangga rumah Bob, kadang penghuni rumah Bob yang baru. Tapi Hop tak pernah lagi punya tuan, tak pernah lagi punya rumah.

Ia kami anggap sebagai salah satu tetangga yang selalu bersama kami. Hop tak pernah lagi mandi air bersih kecuali ada hujan, tak pernah lagi berlarian mengejar sepeda kecuali ada orang tak dikenal. Buat semua orang di kampung ini, si renta Hop membawa kenangan tentang seorang bocah kecil yang ceria dengan sepeda oranyenya.

Ini adalah albumku. Aku menyusunnya di atas lembaran- lembaran hitam, segalanya tentang Hop. Album perjalanan Hop. Hop kecil basah kuyub di rerumputan, ketakutan dan kesepian. Hop yang ditemukan Bob. Bob dan Hop dimana- mana, ceria dan bahagia. Hop disamping sepeda oranye Bob. Hop yang nangkring di atas sepeda motor Bob. Hop tua yang sendirian lagi. Hop yang kehilangan dan murung. Hop yang selalu menunggu. Hop si anjing kampung yang menjelajahi setiap jengkal perumahan, tempat- tempat dimana semua bayangan Bob dan Hop terekam.

Aku mengeluarkan mobil dari garasi. Hari baru telah dimulai. Hop duduk di ujung jalan. Ia memandangi aku ketika mobilku melintas di depannya. Ia pun sedang merakit hari – hari barunya, dengan Bob di ingatannya.

Kiddog2

Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing hidup lebih baik dari pada singa yang mati Pengkotbah 9: 4